Tampilkan postingan dengan label sederet kata... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sederet kata... Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2012

Mencari Senja

Ya, Kamu selalu benar. Nyatanya memang udah gak ada matahari sore ini. Kamu selalu benar, untuk lebih memilih tukang pijet daripada menemaniku, menikmati senja.
So Ironic. Terkalahkan oleh tukang pijet!
Nampaknya, udah gak ada lagi harapan sore ini. 
Hey, seperti sore - sore sebelumnya bukan?
Hanya sore ini. Aku mohon.
Apakah "harapan" itu memang semu? Kamu.. benarkah masih "mengharapkannya?"
Atau... Sepertinya sudah tak perlu lagi ku kejar senja kali ini. Seperti ku mengejar mu. Seperti ku mengharap mu. Karena tak ada lagi jingga sore ini. Surut perlahan menggelap gerimis.

Seperti kata mereka...
Kita akan terus hidup selama masih punya harapan.
Dan aku, sore ini...
Memilih tak berharap, terhadap mu. Membiarkan asa ku, meredup perlahan.

Haruskah aku mengais terang esok pagi?

Selasa, 30 Agustus 2011

Minal Aidzin Wal Faidzin

Tuhan mampu melihat seberapa banyak air mata yang menetes, seberapa perih yang mereka rasakan atas luka yang tersimpan. Luka ketika kita tak mampu memaafkan masa lalu. Dan apalah aku ini -satu titik dalam semesta-.
Untuk segala luka yang tercipta yang tak mampu ku lihat, Aku bersimpuh dalam ampunan. Satu titik yang rindukan keikhlasan senyuman juga lengan berpeluk maaf.
Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin ya B..

Rabu, 03 Agustus 2011

Cinta Kita

"Seharusnya cinta tak berbatas, tapi kenapa cinta kita terbatas?
Jika cinta itu memang ada, harus dimana kita tempatkan? Kemana kita melangkah?
Cinta, cukupkah ada kamu dan aku yang rasa? Aku mencintaimu dan sebaliknya kamu yang bilang menyayangiku, tanpa ikatan tanpa paksaan tanpa tuntutan yang berlebih.
Cinta, jika memang terbatas dan hanya sebatas hati kita memakna, aku berpasrah pulangkan segalanya pada Sang Pemilik Cinta Sejati".

Selasa, 14 Juni 2011

"Cinta itu adalah perasaan dimana ketika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika, terluka, b'sedih, n terabaikan...... Namun kamu tetap masih  peduli padanya....."

Minggu, 24 April 2011

(membangun)(bertahan)(kehancuran)

07.56 am
Yang namanya menghancurkan pertahanan tuh memang gampang banget. terlebih jika lawan kita kuat, dalam arti segalanya. Seperti pagi ini, Aku udah mempersiapkan hati dan mencoba membangun kekuatan dari kemaren untuk 'bicara' untuk mncoba siap jika kenyataan yang aku terima nanti tidak sesuai dengan keinginan. Aku harus siap kecewa. Aku lagi - lagi terduakan, kali ini benar - benar orang lain, bukan pekerjaan. Ternyata dia orang yang lebih sabar dan lebih kuat untuk mendapatkan kekasihku.
Menyerah, aku rasa lebih baik. Bukan untuk kalah, tapi lebih pada membangun kekuatan lagi untuk esok. Menyerah pada cinta yang tidak mungkin aku paksakan, menyerah pada kenyataan yang sangat menyakitkan. Yang aku lakukan hanya mencoba membuat pertahanan, agar aku tidak semakin rubuh karena kecewa. membuat pertahanan agar aku bisa tegar lagi tuk hadapi kenyataan selanjutnya yang gak pernah kita tahu. Aku kenal tubuhku aku kenal hatiku. Aku tahu yang bisa buat aku kuat dan hal apa yang bisa patahkan semangatku. Hanya Kamu!
Dan pagi ini tiba - tiba pertahananku ambrol ketika mendengar suaramu merajuk, suara yang paling aku suka, suara saat - saat kamu memanjakanku. Padahal aku sedang bersiap untuk terima amarahmu, aku sedang bersiap untuk pergi dan kehilanganmu.
Seharusnya toh aku tak perlu terkejut, karena hal ini pun telah berulang kali terjadi. Marah, ngambek, diem - dieman, lalu baikan lagi seolah gak pernah terjadi apapun. Semua dianggap wajar. Dan aku selalu yakin, nanti pasti akan baik - baik saja *sigh*.


11.08 am
Aku gak tahu gimana mengartikan rasa ini. Ternyata aku belum cukup kuat untuk mengakhirinya. Aku tak kuasa mendengar tawanya, suaranya, ciuman - ciuman lucunya di akhir obrolan tadi. Aku gak tau dia tulus atau palsu, sekedar ingin buat aku senang. Sangat naif. Nyatanya aku senang.
Dan terjadi lagi, seolah tak terjadi apapun. Sedikit kaku, tak ada amarah, cercaan ataupun sindiran sinis. Entah kemana mereka tiba - tiba sembunyi. Dia berusaha seolah keadaan kami baik - baik saja. Aku gak ngerti yang dia rasa saat ini. Aku gak peduli. Ya, kembali aku membangun pertahanan. Meyakinkan diriku sendiri bahwa Ia mencintaiku. Tak perlu yang lain. Aku hanya harus sabar, harus lebih berjuang lagi dan lebih berkorban dan lebih lagi. Karena aku memang ingin begitu. Dan lebih tepatnya, aku tak ingin semua ini berakhir, aku menginginkan dia.
Tuhan, ampuni aku. Ampuni aku jika takabur, ampuni aku jika tak hiraukan petunjukMu. Ampuni aku jika tak mampu hapus kasih ini. Aku terlalu mencintainya Ya Rabb. Aku tak ingin kehilangan dia. Aku hanya ingin bahagia bersamanya..


"Memintalah padaNya meski nampak mustahil"
Tak ada yang mustahil di dunia ini kan Tuhan? Aku akan terus berdoa, hingga kemustahilan itu terlihat nyata.



*sesobek kertas yang mampu menampung rasa*

Senin, 31 Januari 2011

Kedai Kopi

Pren, gw di Peacock. Need you rite now!

send : Dito, Ami



Terkadang gak abis pikir juga dengan persahabatan kami. Aku rasa tidak ada satu hal pun yang membuat kami memutuskan untuk bersahabat. Kecuali, kami ini sama - sama GILA. Gak sampe setengah jam Dito dan Ami muncul di hadapanku dengan wajah yang khawatir.
"Ngapain lo disini sendirian?" Khas Dito selalu nyolot duluan sementara gw ambil kotak tisu dimeja samping dan numpuk dua kotak di meja gw. Kebiasaan Dito juga kemana - mana selalu berkeringat. Apa karena lemak yang berlebihan dibadannya?
"Hey, ngapain lo disini sendirian?" Kali ini Ami yg angkat bicara. "Makanya gw ngajakin kalian disini, biar gw gak sendirian dudul"
"Eh, elo kali yang dudul. Ngajak tuh janjian dari siang kek,

Rabu, 26 Januari 2011

Mati Rasa

Kini,
Aku bukan siapa pun
Di saat Kamu dan Dia, bersama
Aku sakit hati

Aku sedih
Aku kecewa....
Masih pantas kah aku merasakan itu semua : terhadap mu?



Lima menit kemudian, deringnya menyentakkan lamunanku.
"Udah tidur Beib?"
"Belom"
"Lagi apa?"
"Nothing..."
"I want you this night Beib, I miss you so much"
"I can't Honey... Just take a rest, sleep tight. I'll see you tomorrow, Ok?"
"Ya Beib, aku..... Sayang kamu"

Seketika hati ini terasa hampa. Aku mencarinya. Terasa berbeda. Mencoba mengingatnya di saat suaranya terdengar manja. Di saat Dia bilang : sayang...
Gak ada! Kemana rasa itu pergi. Tak ada lagi sedih, tak ada lagi cemburu, tak ada lagi kecewa. Dia pergi. Tak juga senang, tak juga merasa menang. Tak ada gairah tak juga menyesal menolaknya. Hampa. Hanya itu yang aku rasa.
Inikah yang namanya : MATI RASA??

Senin, 24 Januari 2011

Rahasia Kita

Mataku tak lepas menikmati hamparan lampu kota malam ini. Sedikit gerimis dan mendung masih menggantung. Tapi pandanganku terusik dengan satu pertanyaan : "siapa Beib?" Tangan Rama menyentuh pundakku memaksaku tuk sejenak mengalihkan bias cahaya itu. Aku hanya menyipitkan mataku, marah. Aku masih ingin menikmati malam ini tanpa ada keributan sekecil apapun. Aku tahu kemana arah pertanyaannya. "Beib, please. Siapa yang cerita tentang kejadian itu?" Kutepis tangan hangat itu dari bahu ku. "Chilla..!" Rama mulai kesal dengan aksi diam ku.
"Bukan siapa - siapa." Jawabku singkat dan kembali menatap hamparan lampu kota. "Non sense, pasti kamu tahu siapa yang cerita." Lagi, aku hanya melirik sinis padanya. Sesaat pandangan kami bertemu. Aku geram, Dia merusak suasana hatiku, rahangku mengeras menahan sesuatu yang membuncah di dada.
"Aku." Rama menelusuri wajahku menatap tajam mataku berusaha mencari jawaban. "Beib..."

Kamis, 13 Januari 2011

Is Just Empty Space Without Your Love


Tak ada kecupan yang selalu buat aku tersenyum
Tak ada pelukan yang menenangkan gundah ku
Tak ada senyuman bahkan tak juga sedikit sentuhan
Hanya aku yang memaksa meraih punggung tangannya tuk ku cium
karena aku menghormatinya,
karena aku menyayanginya,
Teramat sangat.
Saatnya tuk Dia pergi.
Sekuat tenaga tak kuhiraukan rasa ku
Sekuat hati menahan tangis di pelupuk
Segaris senyum berusaha kutunjukkan pada mereka,
bahwa aku baik2 saja.
Secepat kaki melangkah, menghindari tatapan dan tanya.
Mencari ruang sendiri.
Ah, Aku tak mampu....
Tangis ku mengalir.
Berharap hari ini cepat berakhir,
dan kesakitan ini lekas berganti.

Ya, semua berlalu begitu saja
Seperti Dia...

Dan seketika aku merasa kosong dalam keramaian ini.

Rabu, 05 Januari 2011

Don't cry.... Beib

Rintik gerimis mulai mereda tepat ketika Ia mulai suapan pertamanya.
"enak?"
"enak lah, siapa dulu yang bikin"
Siapapun akan bahagia jika masakannya dipuji. Tapi aku merasa biasa saja. Tersenyum getir. Aku semakin resah. Lilitan spagetti digarpu itu berada di hadapanku, digoyangnya menggoda memaksaku untuk membuka mulutku segera.

-kini harus aku lewati sepi hariku tanpa dirimu lagi..-

Alunan lagu Glenn itu spontan membuatku menggeleng. Aku sedang tak berselera melahap masakanku sendiri. Jari - jari besarnya dengan cepat menekan tombol off di radio. Seketika sepi, aku dan dia hanya saling menatap terpaku.

"sudahlah beib, kita nikmati makan siang ini aja yah? Inget kan, janjinya?"
"yup" jawabku tersenyum, tapi rasa hangat mengalir dari ujung mataku. Ah, aku tak pernah bisa berhasil mengontrol tangisku.
AC mobil ini tak juga berhasil membuatku merasa dingin. Resah itu masih juga belum mau pergi meski Dia disini bersamaku. Aku menekan tombol hitam di radio lagi, berharap ada lagu yg sedikit membuatku ceria lagi. Tapi nyatanya :

-di tengah rasa rinduku yg menggebu kau bersama dia, di saat-saat ku menunggu dirimu kau bersama dia...-

"Shit!" Jemarinya lincah menekan tombol off, jemariku juga lincah tuk menekannya kembali. Mencari station yang lain. Beberapa kali Dia menekannya lagi dan hal yang sama aku lakukan juga. Sampai pada suara :

-...semua tak kan mampu mengubahku, hanya kaulah yang ada direlungku..-

Aku tersenyum menang, tapi rasa hangat yang mengalir di pipiku semakin deras kurasa.
Seketika tangan itu menarikku dalam pelukannya dan mendaratkan puluhan ciuman dipipiku, kening dan bibirku bertubi - tubi hingga aku tak sempat merasakan udara masuk melalui hidungku. Kudorong tubuhnya menjauh tersirat senyum diwajahnya. Senyumnya selalu membuat jantungku berdegup lemah, membuatku tenang.

"aku hanya ingin melihatmu tersenyum, terus tersenyum. Karna kamu cantik dengan senyummu."

Sekali lagi Dia merengkuhku, menciumiku...

Minggu, 12 Desember 2010

Jogja (again)

JOGJA
“Dis, kamu ke Jogja ya sore ini juga”, Big Boss tergopoh-gopoh menghampiri mejaku.
“Sore ini pak? Ada apa?” Tanyaku heran.
“Kamu urus tuh Diman, dia buat ulah lagi disana. Bambang udah gak bisa handle katanya. Saya udah siapkan driver, pokoknya besok Saya nggak mau masalah ini masih saja dibahas”. Wah kalo big boss udah bilang pokoknya, berarti udah nggak bisa dibantah lagi. Kalimat sanggahan ku yang pertama adalah,” harus saya pak?”
“Saya rasa Cuma kamu yang bisa mengatasinya”.
“Saya ijin pulang dulu ya pak, packing”.
“Makanya, lain kali sediakan beberapa potong baju dikantor jadi kalau harus tiba – tiba keluar kota siap saat itu juga. Lagi pula kamu kan doyan belanja, bisa beli baju disana kan? Gitu aja kok repot. Jangan kaya orang susah gitu lah”. Aku hanya manggut-manggut tak mau berdebat lagi dengan bos. Aku ini ke kantor mau kerja bukan pindah tidur, ngapain juga bawa2 pakaian ganti. Runtukku dalam hati, yah hanya dalam hati. Adil, nama bos ku ini, memang serius tapi sebenarnya santai. Yah kalau udah bilang pokoknya ya berarti harus dilaksanakan. Tapi tak pernah merintah orang dengan membentak. Orangnya benar2 adil, seperti namanya yang hanya ADIL –tanpa lanjutan-
Kulirik jam kecil berbentuk Bart Simpson di meja kerjaku, setengah satu. Masih ada waktu untuk packing. Siapkan beberapa baju saja, nggak ingin berlama2 disana. Kalaupun terpaksa, yah belanja deh. Butuh waktu tak sampai sepuluh menit tuk sampai kontrakan kecilku diperumahan dekat kantor. Tiga setengah jam tuk sampai Jogja. Berarti masih ada waktu dan tidak terlalu malam untuk bertemu dengan Pak Bambang, Branch Manager Jogja.

Selasa, 02 November 2010

Pergi

"Kamu belum jawab sejak aku tanyakan dulu".
"....."
"Beri aku satu alasan biar aku bisa pergi darimu". Tangan kekarnya semakin kuat merengkuhku. Membuatku susah bernafas, mengais udara.
"Kamu nggak akan pernah dapatkan jawaban itu".
"Kenapa? Pertanyaan itu akan terus berulang sampai aku tahu jawabannya". Kataku ketus.
"Aku mohon, jangan bilang ingin pergi".
"Apa aku masih harus tetap disini melihat kebahagiaan kalian? Terbuat dari apa hatimu? Aku gak sanggup" Kutepis tangannya yang ingin mengusap air mataku.
"Aku mohon, jangan menangis. Aku takut tak bisa bertemu denganmu lagi, aku teramat takut melihatmu rapuh tanpaku".

Senin, 01 November 2010

From Jogja to Bali ( 1 )

Aku termangu menatap taman dirumahku sendiri. Belum juga aku keluar dari mobil. Pandanganku kosong, entahlah, aku sendiri tak tahu sedang berfikir apa. Tiba – tiba seseorang mengetuk jendela mobilku, “mbak, ngapain ngelamun? Kok ndak turun – turun dari tadi?” Mbok Yah, wanita separuh baya yang bekerja dirumahku. Hampir sepuluh tahun beliau bekerja dengan keluargaku. Sejak aku lepas SMU, hingga sekarang usiaku memasuki kepala tiga. Usia yang rawan bagi perempuan, seperti aku sekarang. Mama dulu memaksa Mbok Yah untuk ikut denganku, menemaniku merantau jauh dari keluargaku, Jogja. Mama, Papa dan kedua adikku ada di Jakarta. Kebetulan keluarga Mbok Yah ada di Magelang, tak jauh dari Jogja. Dan Mama disana dibantu Mak Sih, adik kandung Mbok Yah dan Septi anak bungsu Mbok Yah yang disekolahkan Mama disana.
Aku melangkah gontai keluar dari mobil CRV Gold ku, meneteng tas kerja yang sebenarnya gak ada isinya selain dompet. Mbok Yah mengambil laptop yang ada di kursi samping.
“Mbak Dis sakit? Kok tumben pulang jam segini, masih sore”. Kata Mbok Yah yang sedari tadi dibelakangku. Aku hanya berjalan lesu tanpa menjawab pertanyaannya. Kulirik jam yang melingkar ditanganku, masih setengah lima sore langit juga masih terang. Ah, aku memang pulang terlalu cepat. Tapi yang aku rasakan memang lelah.

Malaikat Kecil

Malaikat Kecil
Rush merah itu melaju kencang menyibak hujan yang deras mengguyur kota ini sedari siang tadi. Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya hampir mati rasa memegang setir dan beberapa kali meleset menginjak perseneling dan gas. Kakinya juga hampir mati rasa karena terlalu gugup. Ah, bukan. Bukan gugup. Tapi penyatuan dari rasa marah dan takut. Nervous. Entahlah. Rasanya seperti mengejar artis ibukota. Tapi yang ada dihadapannya saat ini bukan artis melainkan lelaki yang semalam bercinta dengannya. Ada rasa yang seperti ingin meledak. Kenyataan yang membuatnya marah. Belum genap 20 jam yang lalu, ia bilang akan tetap mencintainya. Namun yang ada sekarang, lelaki itu baru saja selesai mengikuti seminar tentang pernikahan. Dan yang membuatnya lebih marah lagi adalah lelaki itu datang bukan bersamanya, melainkan dengan perempuan yang ia bilang tak pernah ada rasa lagi dengannya. Yah, Dissa tahu perempuan itu pernah menjadi bagian hidupnya. Mala. Perempuan itu mantannya. Itu yang selalu ia katakan untuk meyakinkan Dissa. Hanya sekedar mantan. Tapi sekarang? Apa maksudnya datang di seminar pernikahan bersamanya?

Jumat, 30 Juli 2010

"Album Foto"

ALBUM FOTO

Dini terbangun dari tidurnya. Tangis bocah kecil itu memaksanya tuk membuka mata. Tapi ia tetap tersenyum, ia tahu anaknya haus. Menjadi Ibu adalah satu hal yang paling Ia inginkan. Dan bayi mungil ini adalah anugrah terbesar dalam hidupnya. Tak lama lelaki kecil itu kembali terlelap. Namun Dini terlanjur tak bisa tidur. Ia membuka perlahan laptopnya. Menulis jurnal kini menjadi salah satu rutinitas disela waktu antara pekerjaan kantor, mengurus rumah, buah hati dan suaminya. Tapi tak berapa lama tiba – tiba lampu dirumahnya padam. Seketika ia membuka jendela, rumah tetangga menyala. Berarti hanya listrik dirumahnya yang padam.
Dini berjalan ke gudang ditemani sinar redup dari lampu senter, karena saklar itu ada digudang. Setelah lampu menyala, tiba – tiba matanya tertuju pada sebuah album foto berwarna hitam diantara tumpukan buku – buku semasa kuliahnya. Pasti suaminya yang membongkarnya tempo hari mencari majalah otomotif koleksi lawasnya dan tak mengembalikannya lagi ke dalam dus. Diambilnya album foto itu. Lembar demi lembar dibukanya. Ia tersenyum. kemudian ia meninggalkan gudang gelap itu dengan perasaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahagia.
Setelah berwudhu, ia menghampiri baby box dikamarnya. Dikecupnya lelaki mungil itu yang tengah terlelap. Ditangannya masih mengapit album foto yang baru saja ditemukannya. Diletakkannya di meja samping meja kerjanya. Dan menutup laptopnya. Kemudian ia Tahajjud. Tak banyak doa yang ia pinta, hanya ucap syukur yang keluar dari mulutnya.
Sekali lagi ia menatap baby box disamping tempat tidurnya, memastikan Arya, lelaki mungil berusia delapan bulan itu benar – benar tertidur nyenyak. Dan dikecupnya kening lelaki yang juga tertidur pulas disampingnya.
“ I love you, Bi”. Terdengar sedikit erangan.
“ I love You too Bunda,” tangan kekar itu kemudian merengkuh Dini kedalam pelukannya.




~31052010~